Sunday, 15 August 2010

nyanyian hari-hariku--

Satu ribu, dua ribu, tiga ribu dan bercampur logam-logam kuning ini uang yang terkumpul hanya berjumlah empat ribu rupiah saja!. Bagaimana aku bisa setoran pada bang jek hari ini sedangkan hasilku hanya empat ribu rupiah saja dan jauh dari kata lima belas ribu rupiah sesuai koran yang aku jajakan pada hari ini yang berjumlah lima belas koran.belum lagi aku harus beli obat untuk emak yang sakit dan adikku pasti kelaparan.dan kemarahan bang jek tentunya yang tak kalah menarik untuk menghiasi nyanyian di hari ku ini.panas matahari yang terik, jarum jam yang terus berjalan, kendaraan yang berlalu lalang yang meninggalkan “hiasan” yang berarti untuk kota.ya debu pun setia menemaniku menjajakan koran.demi emak demi adikku dan demi hidupku hari ini.
“koran....koraaaaaaann...koraaaan pa,bu,om,tante koran hari ini berita baru berita baru, seribu saja seribu saja......”
Masih ada sebelas koran lagi.sekarang sudah jam satu siang.aku sempatkan untuk memohon kepada Tuhan agar di beri kemudahan hari ini.di empat rakaat dzuhurnya.
Tenggorokan rasanya sangat kering, ingin membasahinya.tapi, tak ada apa-apa di saku celana sekolahku.tandanya aku harus berteriak lebih keras lagi.
“KORAAAAAAN...KORAAAAANNN PA,BU,OM,TANTE KORANYAAAAAA.....”
Huh, seperti tak ada guna aku berteriak sekeras apapun.sekarang jam dua siang di jam kota.tapi lagi-lagi koran masih bertahan dengan jumlahnya.tinggal sebelas koran lagi.
Aku terus meyakinkan diriku bahwa rezeki pasti akan datang.aku menunggu.
Di pinggir jalan aku terduduk dengan bayang-bayang hidupku.ingat emak di rumah, adik-adikku pasti kelaparan.ah andai abah masih di beri waktu oleh sang Maha Penyayang.


Hah, sangat lucu hidup ini.dimana pemimpin yang dipercaya bertugas mensejahterakan rakyatnya?dimana mereka?apa mereka sedang menyiapkan segalanya untuk rakyat di ruang rapat?ataukah mungkin mereka hanya duduk dan bersenda gurau menyebutkan merek mobil terbaru yang akan mereka dapatkan?atau membicarakan tempat wisata yang akan mereka datangi pada liburan nanti?atau membicarakan dimana LAGI kita akan makan malam yang mewah bersama-sama?
Sedang aku dan yang lain masih harus berpanas-panasan mencari sesuap nasi demi terjalinnya kehidupan.
Tuhan, mengapa?
Begitu keras kehidupan ini jika tak ada rasa sabar dan ikhlas di dalamnya.dalam memaknai nikmat yang Engkau selalu berikan pada kami.
“dek, permisi....dek, dek....”
“oh iya, ada apa kak?”
“maaf menganggu, adik ini menjual koran hari ini kan?”
“ya benar sekali kak, kakak mau membelinya?”
“iya, saya mau beli semuanya dek, berapa semuanya?”
“semuanya sebelas ribu kak, korannya tinggal sebelas saja.”
“oh ya sudah saya ambil semuanya ya, ini uangnya duapuluh ribu.selebihnya ambil saja ya dik”
“tidak usah kak, ini uang kakak”
“dek, rezeki itu tidak boleh di tolak ya”
“wah, terimakasih ya kak”
“iya sama-sama”

Jauh dalam bayang-bayang rasanya aku tak percaya, aku yang sedari tadi duduk memikirkan dimana pemimpinku? Lalu berderai airmata hingga akhirnya tertidur dikasur rumput dengan panas terik matahari jam tiga sore.tiba-tiba di bangunkan dan mendapat apa yang aku harapkan.
Jam empat sore, satu jam lagi aku harus membawa setoran ke bang jek di gudang pinggir kota.koranku terjual habis hari ini, tandanya amarah bang jek tak akan jadi hiasan unukku di hari ini.dan uangnya lebih sembilan ribu rupiah, untukku.dari bang jek aku hanya mendapatkan limaribu rupiah saja untuk sekali jalan BILA koran habis.tapi jika TIDAK? Aku harus mendengarkan kemarahannya dengan rasa takut yang teramat.takut jika dia tak sadarkan diri bisa menggebukiku.
Jam lima sore di jam kota, aku berjalan menuju gudang untuk memberi setoran hari ini pada bang jek.sudah berkumpul di sana teman-temanku yang lain yang bernasib sama menjajakan koran.segera aku dekati bang jek yang duduk dengan kaki di angkat ke meja dengan mulut di penuhi asap dan tangan di penuhi uang-uang hasil setoran.
“heh gundul mane setoran lu hari ini?habis kaga tu koran?”
“ini bang semuanya lima belas ribu rupiah, korannya terjual habis”
“oke kerja lu bagus, lu gue kasih lebih dah buat hari ini, nih uangnye lu ambil semua buat lu, gue denger emak lu lagi sakit?yaudah sekarang lu balik beli obat buat emak lu”
“hah?bang makasih bang makasih banyak bang, saya pamit pulang dulu”
“iye, salam buat emak lu ye”
“iye bang”
Huh, aku tak percaya.
LAGI Allah menunjukan rasa sayangnya padaku.aku tak percaya, bang jek yang terkenal sangat sangar itu masih memiliki perasaan.aku sangat terharu.terimakasih Ya allah untuk nikmat yang Kau beri padaku hari ini.
Aku kembali menyusuri jalan kota sore ini, kali ini bukan untuk menjajakan koran tapi untuk mencari toko obat.untuk membeli obat emak.setelah lama aku bekeliling akhirnya aku menemukan toko obat dan langsung aku beli obat yang di haruskan untuk emak.
Tanpa mengulur waktu, aku kembali berjalan untuk membeli sedikit makanan dengan sisa uangku hari ini untuk emak dan adikku di rumah.aku beli beberapa kue basah, nasi beserta lauk-pauknya.tidak banyak memang.tapi, setidaknya perut mereka terisi hari ini dan tidak kelaparan.aku kembali berjalan untuk pulang ke rumah agar tidak telat sampai di rumah dan tidak kemalaman sampai rumah.
Sudah terasa angin perkumpulan rumah kumuh yang aku tempati di pinggir kota.tidak indah dan tidak mewah memang.tapi aku bahagia disini.tak ada kejahatan,semua warga saling menghormati.tak ada kecurangan, karena semua warga saling melengkapi.aku bahagia disini.
Bukan berarti aku tidak mempunyai mimpi, bukan berarti aku tak mempunyai cita-cita, bukan berarti aku tak punya harapan.aku juga punya semua yang ku impikan.sama seperti mereka yang hidup serba ada serba mewah serba semuanya.tapi kadang mereka tidak bahagia.mungkin karena terlalu sering hidup di manjakan.
Segera aku ketuk pintu rumahku yang terbuat dari papan bekas yang di buat abah bertahun-tahun lalu.dengan bilik bambu yang mulai reot dan sudah cukup tua.adikku dengan wajah penuh harap membukakan pintu untukku.langsung terlihat di pojok rumah emak sedang terkulai lemas karena sakit.adikku langsung menyambar bungkusan yang aku bawa.
“ini apa kak?”
“itu makanan untuk kamu dan emak,ada juga obat”
“wah kita makan hari ini!”
“iya adikku, hari ini kakak dapat rezeki lebih”
Emak hanya tersenyum kecil melihat kegembiraan adikku yang melahap makanan dengan cepat.wajahnya terlihat ceria.sayang, wajah ceria yang memiliki banyak mimpi itu miliki keterbelakangan mental.ya,adikku tidak seperti anak-anak yang lain.dia lahir dengan keterbelakangan mental.karena kehidupan kami yang pas-pasan emak dan abah tak mampu untuk mengobati adikku dengan layak. mendapat therapy ini itu ataupun hal semacamnya yang mendorong kerja otaknya agar lebih cepat.tapi dia miliki banyak mimpi.dia ingin jadi presiden katanya.biar bisa ajak emak keliling dunia dan membuatkan aku dan emak rumah yang layak.
Tapi aku kuatkan mimpi besarnya itu.bahwa tidak harus jadi presiden kalo kamu ingin mengajak emak berkeliling dunia.tidak harus jadi presiden kalau kamu ingin membuatkan tempat tinggal yang layak untuk emak dan kakak.jadilah apa yang kamu bisa adikku, dan mimpimu akan nyata.
“no, dapat dari mana obat dan makanan itu?”
“itu mak dari hasil jualan koran hari ini, dan bang jek memberikan semua uangnya untukku,untuk beli obat emak”
“baik sekali abangmu itu, sampaikan salam emak padanya ya, badan emak mulai enakan setelah minum obat”
“syukurlah mak, emak istirahat saja biar besok sudah sembuh”
“yasudah kamu tidur, besok pagi kan kamu harus sekolah”
“baik mak”

Aku masih beruntung.masih bisa mengenyam dunia pendidikan.untungnya ada dana untuk anak-anak yang kurang mampu.sehingga aku masih bisa belajar sama seperti anak-anak yanga lain.
Tak hanya itu, aku pun mendapatkan beasiswa sampai tamat sekolah menengah atas karena aku berturut-turut menjadi juara kelas selama enam tahun belajar di sekolah dasar.pemerintah kota yang memberiku beasiswa agar aku bisa tetap belajar.
Sayang, abah sudah lama pergi.andai abah masih ada.aku ingin sekali membuat dia tersenyum karena prestasi-prestasiku di sekolah.aku memang anak rumah kumuh,aku memang anak kurang mampu,aku memang penjual koran.tapi aku punya mimpi.aku punya mimpi besar.

------------------------------------------------------


Pagi datang.seperti biasa aku bangun saat adzan subuh berkumandang.aku langsung mengambil air wudhu dan langsung menunaikan dua rakaat pagiNya.semoga Allah memudahkan apa yang aku kerjakan pada hari ini.selepas shalat aku membantu emak untuk mencuci pakaian kami.lalu mandi dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.

Dengan pakaian seragam yang sudah putih kecoklatan dan warna celana abu-abu yang sudah mulai memudar aku berjalan menuju sekolah.seragam yang aku pakai bukan seragam yang ku beli sendiri.tapi, itu seragam bekas pemberian temanku.emak tak punya cukup uang untuk membeli.jangankan beli seragam, untuk sesuap nasipun emak harus membanting keras tulangnya.
Aku harus berjalan kurang lebih dua kilometer dari rumah menuju sekolah.bukan jarak yang dekat jika di tempuh dengan berjalan kaki.mau gimana lagi?aku bukan orang yang punya segalanya.di banding teman-temanku yang lain.mereka setiap pagi dengan mudahnya pergi ke sekolah dengan sepeda motornya dan hampir setiap hari aku mendengar mereka membicarakan merek-merek motor terbaru dengan mesin yang lebih bagus dan apapun itu macamnya.sedangkan aku?aku diam dan hanya diam memikirkan.makan apa aku hari ini?
Tak banyak yang mau berteman dengan ku.ya, karena aku anak kumuh alasannya.mereka bangga dengan kekayaan yang mereka punya sampai tak ada hati untuk berteman dengan seorang AKU?

Di kelas aku belajar dengan normal.aku hanya mempunyai beberapa teman baik.selebihnya akan menjadi temanku ketika ujian atau ulangan saja.tak masalah bagiku.aku di sekolah untuk belajar terus belajar agar aku bisa wujudkan mimpiku.demi emak,demi abah,demi adikku dan demi hidupku.
Seusai pulang sekolah aku langsung pergi ke gudang pinggir kota untuk mengambil koran di bang jek dan menjajakannya seperti hari-hari biasanya.aku hanya mengambil beberapa koran dan tanpa pikir panjang aku langsung pergi menjajakan di sekitar jalan ibukota.perasaanku hari ini tidak enak seperti ada yang mengganjal.aku tiba-tiba kangen emak.tadi sebelum aku berangkat sekolah emak berpesan agar aku pulang lebih cepat.
“no, nanti siang kamu jualan koran lagi?”
“iya mak, seperti biasa.memangnya ada apa mak?”
“kamu pulang cepat ya no, badan emak masih tidak enak.jaga adikmu”
“iya mak, tono usahakan agar bisa pulang cepat”
Pembicaraan itu semakin terdengar di telingaku rasa-rasanya ini sangat mengebu-gebu.ada apa ini?aku takut terjadi apa-apa.aku gak mau kehilangan emak.aku sayang emak.
“tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnn....tiiiiiiiiiiiiinnnnnnnn!!!!!!”
“heh kalo jalan tuh liat-liat kalo kamu ketabrak saya juga yang repot”
“maaf-maaf om maafkan saya maaf”
“ah sudah pergi sana! Jangan menghalangi jalan!”
“iya om,saya minta maaf”
Ah perasaanku benar-benar tidak enak.rasanya ada yang mengganjal di ulu hati ini.sampai-sampai aku di tegur pengguna jalan yang lain karena aku terdiam dengan tatapan kosong sampai tak sadarkan diri ada mobil yang hampir saja menabrakku.
Terbesit untuk langsung kembali pulang ke rumah.aku tak peduli dengan koran-koran yang seharusnya aku jajakan hari ini.yang terpenting aku bisa cepat sampai ke rumah dan bertemu dengan emak.semakin mendekat semakin mendekat hatiku semakin tidak tenang.
Tuhan, kepadaMu aku serahkan hidupku....
Benar saja. ketidaktenanganku itu membuahkan bukti.rumahku terlihat ramai tak seperti biasanya.ada apa ini?mana emak?mana adikku?
Yang terlihat wajah muram aneh orang-orang yang sedari tadi memenuhi rumahku.
“pak, ada apa ramai sekali?emakku mana?”
“no, yang sabar ya nduk”
“pak, saya tak mengerti”
“emakmu pergi no, kata bu dokter emakmu tak tertolong penyakitnya sudah parah”
Rasanya airmata ini tak malu lagi menghiasi pipiku.aku tak tau cobaan apalagi yang datang kepadaku di hari itu yang menghiasi nyanyian hari hidupku.aku ingin menjerit keras dan meminta kepada Tuhan agar hari itu tidak pernah datang kepadaku.emak pergi emak pergi menyusul abah.emak pergi secepat itu.hatiku meringgis hatiku kembali berderai airmata.aku tak sanggup rasanya menjalani hidup tanpa kehadiran emak.sosok ibu yang tak kenal menyerah.sosok ibu yang sungguh menenangkan hati.
“no, sudah jangan terus di tangisi”
“iya mbak,aku sudah ikhlas insyaallah”
“yasudah, lebih baik kau tegar untuk adikmu,kasihan dia tak mnegerti apa-apa”
“iya mbak,aku mencoba tegar”
“sudah masih ada mbak ko, kalau ada apa-apa kamu bisa bilang ke mbak ya no”
“mbak, terimakasih banyak ya sudah banyak membantu”
“iya, sudah sana kamu bersiap untuk mengantar jenazah emakmu ke pemakaman”
“baik mbak”
Entah kata apa lagi yang bisa aku ucapkan ketika melihat wajah polos adikku menangis ketika mengetahui emak sudah pergi dan tak kembali.entah harus bagaimana lagi. rasanya kerja tubuh ini berhenti saat melihat jenazah emak di kuburkan.emak aku sayang emak, tenanglah di sisiNya ibuku sayang.kelak akan ku tunjukkan padamu mimpiku yang nyata.

Tak seharusnya aku terus dalam kesedihan.karena hidup akan terus berjalan.kini aku berjuang sendiri menjaga adik semata wayangku.

Dua bulan sepeninggal emak hasil ujian nasional sekolah menengah atas di umumkan.bersamaan dengan pengumuman beasiswa untuk melanjutkan perguruan tinggi.alhamdulillah namaku ada di sana.aku mendapat penghargaan karena hasil ujianku menjadi nilai tertinggi di sekolahku dan aku mendapat beasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri favorit.tentu bukan hal yang mudah aku mendapat itu semua.dengan penuh perjuanganku selama ini dan tak lepas doa emak dan abah selama ini.

Tak hanya itu.aku mencoba-coba melamar pekerjaan lewat kenalan seorang teman yang bekerja di suatu perusahaan swasta.dan ternyata aku di terima dengan baik di situ.mulailah kehidupan baruku sebagai mahasiswa sekaligus pegawai perusahaan terkenal di ibukota.
Aku mulai menjalani hari-hariku dengan penuh nyanyian dan senyuman indah.betapa Tuhan sangatlah adil.karena kebahagiaan pasti datang setelah kesedihan.
Bukan aku saja yang mendapat hal baru.adikku sekarang bersekolah dengan biaya gratis di sekolah luar biasa.pemerintah yang membiayainya.dia sangat senang dengan hal itu.

Terimakasih ya Allah, atas semua nikmatMu....

Sudah seharusnya aku kuatkan hati untuk semua hal yang aku lakukan di hidupku karena suatu hari itu bisa menjadi penyakit hati.belajarlah dengan sabar dan ikhlas dalam menjalani hidup jangan pernah menyerah.

Nyanyian hari-hari ku semakin terdengar indah.semua ku lewati dengan penuh senyuman.mimpiku sudah ada di depan untuk menuju kebahagiaan.aku lakukan ini demi emak,demi abah,demi adikku dan demi terjalinnya hidupku.terimakasih Tuhan atas nikmat yang selalu Engkau limpahkan.

Emak,abah semoga kalian tenang di sisiNya dan di tempatkan di jannah terindahNya...
Aku di sini masih punya mimpi, aku di sini masih mengejar mimpi.aku menyayangi kalian.

atsilR--15 agustus 2010

No comments:

Post a Comment